Sistem Budidaya Kambing

Sistem budidaya yang saya maksudkan di sini bukanlah cara untuk merawat dan mengembangbiakkan kambingnya, tetapi adalah sistem pembagian hasil yang biasa digunakan oleh para pemilik kambing dengan orang yang diberi kepercayaan untuk merawat kambing miliknya. Bisa dikatakan antara pemilik modal, dengan pekerjanya.

Memang di dekat rumah saya budidaya kambing tidak terlalu populer, sehingga jumlah peternak kambing dan juga jumlah kambing yang dipelihara, tidak terlalu banyak jumlahnya. Tetapi, meskipun demikian ternyata ada beberapa cerita yang bisa saya bagikan kepada para pembaca sekalian.

Di sini, sistem budidaya yang paling sering digunakan adalah, para pemilik kambing akan menitipkan kambingnya pada orang lain, lalu orang tersebut yang akan merawat dan mencarikan rumput untuk kambing tersebut. Lalu saat kambing yang dirawat tersebut telah menjadi besar dan siap dijual, maka hasil penjuualannya akan dibagi dua antara pemilik kambing dengan orang yang menjualnya. Sistem pembagian seperti ini, kebanyakan untuk merawat kambing yang jantan saja, biasanya dipersiapkan khsus untuk Qurban.

Biasanya dengan cara ini, pemilik kambing tidak usah repot dalam mencari rumput, atau membersihkan kandang dan kambingnya. Setelah beberapa waktu (biasanya setahun) dia akan mendapatkan hasilnya. Sistem ini jika dirasakan, seperti menanam modal saja. Yaitu hanya mengeluarkan uang, lalu orang lain yang akan menjalankan usaha, dan setelah untung, maka keuntungannya akan dibagi dua.

Jika dilihat dari sisi peternaknya, maka saya lihat bahwa dengan sistem seperti ini dia juga merasa beruntung karena bisa mendapatkan pekerjaan tambahan yang hasilnya cukup lumayan, karena jika harus membeli kambing sendiri, saya mendengar bahwa dia masih belum sanggup.

Untuk sistem budidaya yang lain, saya melihatnya seperti sistem upah di perusahaan atau pabrik. Jadi, pemilik peternakan kambing tersebut hanya mengupah orang untuk mencari rumput saja, lalu dia juga mengupah orang lain lagi untuk membersihkan kandangnya saja. Setiap orang/pekerja diupah berdasarkan pekerjaan yang dia lakukan, tetapi sistem budidaya seperti ini akan memerlukan modal yang lebih besar. Tetapi keuntungan sistem ini adalah, semua hasil dari penjualan kambing tersebut adalah milik peternaknya.

Mungkin sistem yang ini sangat mirip dengan sistem yang pertama, seperti yang sudah saya paparkan di atas. Yaitu sistem bagi hasil antara pemilik kambing dengan orang yang merawatnya. Tetapi hasil yang dibagi antara pemilik dan perawat kambingnya bukanlah uang hasil penjuaan.

Tetapi di sini yang dibagi adalah anak kambing yang dihasilkan, jadi di sini bukan dihitung berdasarkan uang hasil penjualan, tetapi berdasarkan jumlah anak kambing. Misalkan Satu anak kambing untuk pemilik, dan satu anak kambing yang lain untuk orang yang merawatnya.

Biasanya cara ini dilakukan jika kambing yang dirawat bukanlah kambing jantan semua, tetapi campuran antara jantan dan betina. Jadi, dalam waktu tertentu, maka kambing-kambing tersebut akan kawin, dan akan menghasilkan anak, biasanya perkawinan kambing ini dilakukan secara alami, tanpa bantuan petugas kawin suntik, karena itu maka hasil dari anakannya tidak dapat ditentukan kualitas dan jumlahnya.

Semua sistem yang saya paparkan di atas pasti ada sisi positif dan negatifnya, tetapi selama ini saya melihat bahwa selama tidak ada salah satu pihak yang berbuat curang, semua aman-aman saja.

2 comments

    • Jody on 21 Februari 2017 at 4:27 pm

    Reply

    Ada info pembeli kambing dan sapi ngga min untuk wilayah Surabaya-Sidoarjo atau dalam. Jawa timur?

      • Remi on 22 Februari 2017 at 2:24 pm
      • Author

      Reply

      Ngak ada mas, saya melakukan survei langsung ke peternaknya. Jadi untuk informasi yang lain masih belum ada yang bisa ditampilkan.

Tinggalkan Balasan