Mengolah Kotoran Burung Puyuh menjadi Pupuk Kandang 3

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya. Yaitu tentang bagaimana saya mengambil kotoran buruh puyuh untuk saya jadikan sebagaipupuk kandang.

Terlepas dari bahan dekomposer apa yang saya gunakan, ternyata pupuk burung puyuh inipun tetap bisa memberikan dampak pertumbuhan yang cukup signignifikan bagi tanaman-tanaman yang saya miliki.

Kalau boleh saya gambarkan bahwa kondisi yang dihasilkan oleh pupuk burung puyuh ini mirip seperti kondisi dari pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam, misalnya saja ayam petelur, baik itu ayam pedaging atau peternakan ayam lain.

Jadi, jika kita memberikan pupuk terlalu banyak dalam waktu cukup lama, maka kondisi tanah menjadi keras sekali. Biasanya setelah kondisi tanah menjadi keras ini, maka tanaman menjadi terlihat tidak subur. Biasa saya pribadi akan menyiram tanah tersebut secara teratur, tujuannya agar kondisi tanah bisa lebih gembur, tetapi memang basanya tidak akan terlihat signifikan perbedaannya.

Tetapi keunggulannya, tanamn bisa lebih cepat tumbuh besar, dan lebih cepat berbuah, istilah seperti memacu pertumbuhan. Menurut beberapa kenalan, mereka tidak terlalu suka dengan sifat tanamn yang diberi pupuk jenis seperti ini, dan mereka lebih memilih untuk menggunakan pupuk dari kotoran kambing atau sapi yang bersifat lebih dingin, lebih lambat dalam mamacu pertumbuhan dan kesuburan tanaman, tetapi dapat menjaga kesuburan tersebut lebih lama. Lagi pula pupuk dari kotoran kambing atau sapi tidak membuat kondisi tanah menjadi keras, seperti pupuk dari kotoran unggas.

Karena pupuk dari kotoran puyuh yang saya punya adalah barang gratis, maka saya perlu mencari solusi agar pupuk tersebut aman untuk digunakan. Yang pertama saya mengurangi dosis yang diberikan untuk setiap tanaman, dan pemberiannya juga lebih jarang. Tujuannya agar tanaman bisa lebih beradaptasi dengan pupuk yang diberikan.

Lalu untuk tanaman dalam pot, saya mencampurkan tanah yang digunakan sebagai media dengan menggunakan arang sekam ataupun serpihan arang kayu. Tujuannya agar media tanam tersebut tidak menjadi terlalu keras dan agar pertumbuhan tanaman tetap terjaga.

Tetapi jika itu adalah jenis tanaman sayuran, maka setiap kali panen, atau setiap beberapa waktu sekali media tanamnya tetap harus diganti, karena setelah digunakan sekian waktu, media tanam tersebut tetap akan mengeras, bahkan arang sekam yang ada di dalamnya pun, juga akan hancur dan menyatu dengan tanahnya. Sehingga media tanamnya tetap berubah menjadi sangat keras. Dengan begitu maka pertumbuhan tanaman akan tetap subur, dan tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan