Mengolah Kotoran Puyuh menjadi Pupuk Kandang bag. 2

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, jadi permasalah dalam mengolah kotoran burung puyuh menurut saya lebih sulit dan lebih rumit dari pada mengolah kotoran hewan peliharaan yang lain. Masalah berikutnya yang saya hadapi adalah jumlah pupuk yang dihasilkan ternyata lebih banyak dari pada yang bisa saya tangani, bahkan wadah-wadah yang sudah saya siapkan, ternyata sudah tidak bisa lagi menampungnya.

Biasanya saya menggunakan pupuk yang sudah direndam lebih dari sebulan atau lebih untuk memupuk tanaman, dan dosis yang saya gunakan biasanya lebih kecil dari kebutuhan tanaman, tujuannya agar tanaman tidak stres karena terlalu banyak pupuk. Semakin lama pupuk tersebut direndam, maka biasanya kondisinya semakin baik, pupuk tersebut sudah dingin dan sudah tidak mengeluarkan gas yang bau lagi. Sudah bisa dibilang aman untuk tanaman.

Tetapi karena jumlah pupuk yang saya punya semakin banyak, dan sudah tidak ada lagi tempat untuk menampungnya, maka mau tidak mau saya harus menggunakan pupuk yang belum sepenuhnya jadi. Kekhawatiran yang paling besar yang saya hadapi yaitu ketakutan jika pupuk yang belum jadi tersebut diterapkan pada tanaman takutnya tanamannya tidak menjadi subur malah menjadi mati, baik itu karena kondisi pupuk yang masih panas dan gas yang ada di dalamnnya belum sepenuhnya hilang, saya juga khawatir soal jumlah dosis pupuk yang saya berikan itu terlalu banyak, karena dengan kondisi pupuk seperti itu, maka takunya tanaman malah menjadi mati.

Pernah di awal-awal dulu, bahwa saya menyiramkan begitu saja pupuk tersebut ke tanah kosong yang tidak ada tanamannya, tujuannya agar kotoran tersebut bisa menjadi pupuk bagi tanah. Ternyata tanah tersebut malah menimbulkan bau yang sangat tidak sedap, baunya seperti kotoran yang masih baru, selain itu akibat dari bau yang ditimbulkan banyak lalat yang hinggap di situ, karena hal itu saya diprotes oleh orang rumah, bahkan bau ini masih menempel di situ selama beberapa hari berikutnya. Karena hal tersebut, maka saat ini saya tidak pernah lagi melakukan hal itu.

Karena itu jika saya ingin membuang pupuk yang belum sepenuhnya tersebut di tanah terbuka, berikutnya saya mencoba untuk memasukkan kotoran yang masih baru tersebut di dalam lubang pembuangan sampah organik. Sepertinya jika dibuang di sana, maka pupuk tersebut tidak akan mengeluarkan bau. Tetapi masalahnya pupuk tersebut tidak akan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman jika terus-menerus dibuang. Akibatnya saya harus mencari cara lain lagi.

Sebetulnya saya sempat ingin menggunakan produk dekomposer yang lebih baik kualitasnya. Hanya saja produk ini sangat mahal, dan kemasannya juga kecil, dan cara mendapatkannya juga cukup rumit, karena itu sampai saat ini saya belum bisa menggunakan produk tersebut.

Menurut saya agak dilema juga, di satu sisi saya senang mendapatkan pupuk gratis, tetapi di sisi lain saya agak risih jika terus-menerus diceramahi orang rumah yang tidak tahan dengan bau pupuk tersebut.

Karena akumulasi dari hal-hal di atas, maka saya memutuskan untuk tidak lagi mengambil kotoran buruh puyuhnya, tetapi saya memfokuskan diri untuk mengolah pupuk yang sudah ada di rumah saya saja.

Tinggalkan Balasan