Mengolah Kotoran Burung Puyuh menjadi Pupuk Kandang

Seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya, bahwa saat ini saya memiliki sumber kotoran burung puyuh untuk dijadikan pupuk kandang. Memang sebelumnya saya sudah memiliki pengalaman yang cukup panjang dengan memproduksi kotoran kambing dan juga kotoran ayam, tetapi untuk kotoran burung puyuh adalah sesuatu yang baru buat saya.

Metode yang saya gunakan masih sama seperti yang saya gunakan untuk mengolah kotoran hewan lainnya. Yaitu kotoran yang masih segar, akan saya rendam dalam air pada suatu wadah. Tetapi yang jadi masalah, bahwa kotoran ini tidak datang sekaligus dalam jumlah yang banyak, tetapi datangnya dicicil setiap hari.

Jumlah kotoran burung puyuh dalam satu hari adalah satu ember tukang, jadi untuk dua hari jumlahnya menjadi dua ember. Masalah yang saya hadapi adalah kotoran yang selalu segar ini, akan terus menerus mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Biasanya setelah dua tiga hari bau ini akan mereda bahkan setelah satu minggu, bau ini akan hilang dengan sendirinya. Tetapi jika kotoran baru terus menerus ditambahkan ke dalam wadah penampungan, maka bau tidak sedap ini akan terus-menerus timbul.

Akibatnya orang rumah sudah mulai tidak nyaman dengan bau yang ditimbulkan ini. Memang belum ada tetangga yang protes dengan baunya, tetapi orang rumah sudah memberi ultimatum agar jangan sampai menimbulkan protes tetangga.

Akhirnya saya mulai memberi penutup pada wadah penampungannya, dengan harapan agar baunya tidak menyebar bersama hembusan angin. Ternyata cara ini hanya membuat bau kotorannya menumpuk di sekitar wadah saja, tetapi saat ada angin berhembus, bau tersebut masih sering tercium bersama hembusan angin. Meskipun sudah berkurang baunya, tetapi cara ini masih tidak memuaskan penghuni rumah saya, karena baunya masih tercium menyengat di dekat penampungan.

Karena masih belum berhasil, saya kemudian memikirkan cara lain. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli dekomposer di toko bahan kimia, pada saat itu yang mereka sediakan hanya produk dari Em 4, untuk harganya sendiri Rp 20.000/botol, untuk ukurannya tertulis 1 liter.

Untuk penggunaannya saya akan mencampurkan Em4 tersebut dengan air bersih kemudian baru saya siramkan ke dalam wadah kotoran. Memang harus saya akui bahwa produk ini bisa mengurangi bau kotoran burung puyuh ini secara signifikan.

Tetapi lagi-lagi masalahnya adalah kondisi kotoran baru yang terus-menerus harus saya ambil setiap hari. Akibatnya bau yang ditimbulkan terus muncul, meskpun tidak menyengat tetapi kotoran baru ini, tetap menimbulkan bau, dan ini masih menimbulkan protes, meskipun sudah tidak sebanyak sebelumnya.

Saya berfikir bahwa jika pengambilan kotoran ini dihentikan, maka kemungkinan besar masalah bau ini bisa dikurangi, karena yang jadi masalah adalah kotoran yang baru setiap hari tersebut.

Tinggalkan Balasan