Pembuatan Tahu Takwa Kediri secara Tradisional

Mungkin pembaca sekalian sudah banyak yang tahu, bahwa salah satu jenis oleh-oleh khas dari daerah Kediri – Jawa Timur adalah berbagai macam olahan tahu, dan salah satu diantaranya adalah Tahu Takwa. Untuk pabrik yang akan diceritakan dalam artikel ini, masih mempertahankan proses pembuatan dan pemasakannya seperti sejak pertama kali diproduksi dulu, yaitu sekitar 100 tahun yang lalu.

Berikut adalah proses pembuatan tahu takwa yang ada di pabrik tersebut:

Sama seperti tahu yang lain, pada pabrik ini juga menggunakan kedelai sebagai bahan baku utamanya. Selain itu, mereka mengatakan bahwa mereka hanya mau menggunakan jenis kedelai pilihan saja sebagai bahan bakunya.

Langkah pertama, kedelai akan direndam dalam air semalaman. Kemudian setelah direndam, kedelai akan dicuci sampai benar-benar bersih, supaya tidak cepat asam.

Proses selanjutnya, kedelai akan digiling. Proses penggilingannya sendiri masih menggunakan batu yang diputar. Batu penggilingan ini memiliki lubang pada bagian tengahnya, kemudian biji kedelai akan dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Setelah batu diputar, maka biji kedelai akan berubah menjadi bubur kedelai. Bubur kedelai ini akan mengalir keluar lewat sisi-sisi luar batu penggilingannya.

Setelah cukup banyak, maka bubur kedelai akan dimasak dalam kuali besar, suhu pemasakan berkisar antara 70°C – 80°C. Hal yang cukup penting dalam proses pemasakan ini yaitu harus dijaga agar bubur kedelai ini jangan sampai mengental.

Proses pemasakan bubur kedelai ini masih menggunakan tungku kayu bakar, tujuannya agar suhu pemasakan bisa lebih mudah dikontrol. Setelah matang, maka kedelai yang sudah masak tadi akan dipindahkan dan disaring dalam bak fermentasi, tujuannya untuk memisahkan ampas kulit dan sari kedelainya. Sisa ampas akan diperas sampai benar-benar habis sari kedelainya, kemudian ampas ini akan digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan tempe bungkil.

Sari kedelai yang masih ada di dalam tempat penampungan, kemudian akan ditambahkan cuka, dan diaduk-aduk secara perlahan. Untuk proses pencampuran dan pengadukan ini diperlukan orang yang benar-benar ahli, karena jika sampai salah, maka tahu yang akan dibuat akan gagal.

Proses fermentasi cuka akan menghasilkan endapan atau gumpalan tahu pada bagian dasar tempat penampungan. Setelah endapan terbentuk, maka air fermentasi cuka harus segera dibuang, agar tahu tidak menjadi asam.

Endapan tahu akan dipindahkan ke dalam bingkai-bingkai kayu. Jadi, bingkai-bingkai ini akan dialasi dengan menggunakan kain, selanjutnya endapan tahu dihamparkan pada kain di dalam bingkai tersebut. Selanjutnya endapan akan ditutup lagi dengan sisa kain pada pada bingkai. Jadi semacam dibungkus dengan menggunakan kain.

Biasanya bingkai-bingkai ini akan disusun secara bertumpuk dengan bingkai yang lain, tujuannya agar tahu bisa menjadi lebih padat. Setelah semua bingkai terisi dengan tahu, maka bingkai-bingkai tersebut akan disusun pada alat tekan, setelah itu pada bagian paling atas sendiri akan ditutup dengan menggunakan kayu. Kemudian kayu tersebut akan ditekan dengan menggunakan batang bambu, yang salah satu ujungnya sudah diberi pemberat. Memang alat pemerasan tahu ini masih sangat sederhana, dengan menggunakan gaya gravitasi saja.

Setelah tidak ada air yang menetes dari alat tekan, maka dapat dipastikan bahwa tahu sudah padat, dan sudah bisa dikeluarkan dari alat tekan. Tahu yang sudah padat ini, kemudian akan dipotong-potong sesuai bentuknya. Dari sini proses pembuatan tahu sudah selesai.

 

Tetapi perlu anda diketahui, bahwa yang namanya tahu dan takwa adalah dua hal yang berbeda. Karena yang namanya tahu sudah selesai setelah dikelurkan dari alat tekan tadi. Tetapi untuk membuat takwa, tahu yang sudah jadi tadi, kemudian akan dipotong-potong dan direbus kembali ke dalam air kunyit mendidih. Setelah proses perebusan ini selesai, maka takwa bisa langsung dikonsumsi.

Jika yang namanya tahu masih berwarna putih dan teksturnya masih lembek, maka takwa berwarna kuning dan teksturnya lebih keras.

Untuk takwa yang ada di sentra pengrajin ini bisanya hanya bisa bertahan seharian saja, karena tidak menggunakan bahan pengawet, tetapi jika langsung dimasukkan ke dalam lemari pendingin, maka waktu simpannya bisa lebih lama, yaitu sekitar seminggu.

 

Lalu apakah jika menggunakan peralatan modern, maka jumlah produksinya bisa meningkat. Maka jawabannya bisa, hanya saja ternyata jika proses pembuatannya dirubah, maka rasa tahu takwa yang dihasilkan juga akan ikut berubah. Pemiliknya mengatakan jika rasanya menjadi tidak seenak yang menggunakan proses tradisional. Karena itu pemilik pabrik sampai sekarang masih mempertahankan proses pembatannya sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan