Akibat Sering Menyermprot Obat di Lahan Pertanian Bagi Kesehatan

Pagi ini saya mendapatkan video layanan masyarakat. Pada video tersebut digambarkan tentang dampak buruk bagi kesehatan, yang dialami oleh pekerja penyemprot obat di lahan pertanian.

Jika dilihat dari orang yang ditampilkan beserta dengan latar suasananya, sepertinya ini adalah video sudah dibuat beberapa puluh tahun yang lalu. Meskipun demikian, saya rasa apa yang ingin disampaikan oleh si pembuat video, masih sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini.

Video ini dimulai dengan perubahan pola masyarakat kita semenjak diterapkannya revolusi hijau. Jadi, pada saat itu masyarakat kita yang banyak bergantung pada kearifan lokal, mulai dirubah pola berfikirnya agar dapat memproduksi pangan yang lebih banyak. Akibatnya, penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia, menjadi semakin sering.

Ternyata, perubahan tersebut malah membuat masyarakat kita, menjadi sangat tergantung dengan obat pembasmi hama. Bahkan, sebelum hama menyerang, tanaman sudah disemprot lebih dahulu. Belum lagi, kondisi masyarakat kita yang malas untuk membaca petunjuk pemakaian, akibatnya dalam mencampur obat mereka menggunakan perkiraan dari perasaan mereka saja.

Selain itu, tidak jarang para penyemprot obat ini, mencampurkan beberapa merk obat sekaligus secara bersamaan, padahal mereka tidak tahu apa efek yang dapat ditimbulkan dari pencampuran tersebut. Sedangkan, untuk membuat efek obat menempel lebih lama, sering kali mereka menambahkan lem perekat.

 

Di akhir video, dijelaskan akibat yang dialami oleh para penyemprot tersebut. Mereka yang bersinggungan langsung dengan proses penyemprotan mengalami penurusan kesehatan secara signifikan.

Salah satunya ada pekerja yang mengalami kelumpuhan otot. Jadi, saat wawancara ini berlangsung, mereka sudah tidak sanggup untuk bekerja. Badannya kaku, seperti selalu mengalami kram otot, dan yang lain badannya lunglai tak bertenaga.

Penyakit yang paling banyak menyerang para penyemprot adalah sakit gatal, bahkan karena parahnya sakit gatal tersebut, maka kulit beberapa orang sampai menjadi borok terbuka, lalu kemudian berubah menjadi infeksi dan membusuk.

Beberapa orang lain mengalami gatal yang sangat parah, sampai kulitnya mengeras dan penuh kutil. Selama proses syuting, mereka tidak pernah berhenti menggaruk, dan menurut penuturan mereka bahwa sepanjang hari mereka hanya sibuk menggaruk tubuhya, bahkan mereka juga sulit untuk tidur, karena gatal tersebut.

 

Yang menjadi penyebab utama dari semua penyakit yang saya tuliskan di atas, yaitu karena para pekerja tidak memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan mereka. Jadi, mereka tidak ada yang menggunakan masker ataupun penutup wajah saat melakukan penyemprotan.

Akibatnya obat yang mereka semprotkan bisa dengan mudah terhirup dan masuk ke dalam tubuh. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang menyemprot lahan sambil menghisap rokok, jadi boleh dibilang racun yang mereka hisap menjadi berlipat ganda.

Hal ini diperparah dengan sistem penyemprotan yang saling berhadapan, karena itu obat yang disemprotkan bisa saling meracuni pekerja. Para penyemprot juga tidak mempertimbangkan arah angin, sehingga tidak jarang obat yang mereka semprotkan menjadi berbalik kembali ke arah mereka.

Bahkan, alat semprot (tanki) yang sudah rusak dan bocor, tidak pernah dihiraukan dan tetap digunakan sebagai mana alat yang masih normal, akibatnya racun dari obat akan menetes ke tubuh penyemprotnya sendiri. Tetesan ini bisa langsung berdampak pada kesehatan kulit, bahkan mungkin ada yang langsung masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

Rata-rata lama waktu kerja aktif seseorang sebagai penyemprot obat, berkisar 8 – 10 tahun. Karena setelah itu, kebanyakan dari mereka akan mengalami cacat, ataupun penyakit kronis akibat terlalu sering bersinggungan dan menghirup racun secara langsung.

 

Perlu diketahui juga, bahwa racun-racun yang disemprotkan tersebut, tidak akan hilang begitu saja dari hasil pertanian yang kita konsumsi, meskipun bahan makanan tersebut sudah melewati proses pencucian dan pemasakan.

Tinggalkan Balasan