Menaman Jagung Baru pada saat Jagung Lama Belum Dipanen

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman yang menjadi petani jagung, dia mengatakan bahwa untuk mempercepat proses tanam jagung miliknya, dia ingin mencoba menaman jagung yang baru, dibawah tanaman jagung yang belum dipanen. Hal ini karena, dia ingin mengejar musim hujan yang sebentar lagi akan selesai.

Beberapa teman lain mengatakan, bahwa hal semacam itu dilarang, karena menurut adat budaya mereka, tidak boleh menanam jagung baru, sebelum jagung lama dipanen. Menurut saya, pendapat ini lebih kepada mitos dan kepercayaan masing-masing.

Tetapi ada teman dari Tuban, mengatakan bahwa menanam jagung baru, pada saat jagung lama belum dipanen, itu sudah biasa dilakukan di daerah tempat tinggalnya. Dia mengatakan bahwa dengan dimikian, maka panen jagung yang kedua akan lebih cepat dilakukan, jika dibanding dengan menunggu sampai jagung pertama selesai dipanen.

Dia mengatakan, bahwa pada saat menanam jagung yang pertama, maka proses penanaman jagungnya harus menggunakan sistem tanam jarwo (jajar legowo). Yaitu pemberian jarak tanam, berupa baris tanah kosong pada beberapa baris tanaman jagung. Tujuannya, agar ada tempat yang kosong, agar kita dapat menanam jagung yang baru nantinya.

Sebenarnya dengan menggunakan sistem jarwo tersebut, maka baris yang kosong, dapat digunakan sebagai jalan kita dalam memupuk tanaman, menyemprotkan obat, dan mengontrol tumbuh tanaman. Baru saat mendekati panen, maka baris yang kosong tersebut, bisa kita tanami benih jagung yang baru.

Selain itu teman saya juga mengingatkan, pada saat benih jagung yang baru mulai tumbuh, maka daun jagung yang sudah besar harus dikurangi. Jika bisa seluruh daun yang ada di bawah tongkol jagung harus bersih. Tujuannya agar jagung yang masih muda, bisa mendapat sinar matahari yang cukup, sehingga jagung muda tersebut dapat tumbuh.

Lalu apakah varietas jagung yang baru tersebut perlu diganti, atau tetap menggunakan varietas yang sama dengan jagung yang sudah tua. Maka, teman saya ini mengatakan, bahwa sebenarnya apapun varietas jagung baru tersebut tidak menjadi masalah, jadi apakah mau tetap menggunakan varietas yang sama, atau mau diganti itu bisa semua.

Lalu untuk pemupukannya, sebaiknya dilakukan seperti memupuk tanaman jagung yang masih muda lainnya, dan tidak perlu dibeda-bedakan.

Sebenarnya, jika menanam tanaman jagung tumpang sari dengan tanaman cabe atau tanaman kacang, maka itu sudah sering dilakukan oleh beberapa teman lainnya, dan itu tidak ada masalah. Tetapi jika menanam jagung baru pada lahan yang sama dengan tanaman jagung yang sudah tua, maka sepertinya ini agak menakutkan bagi beberapa orang teman petani jagung yang lain.

Tinggalkan Balasan