Proses Pembuatan Kertas yang Ditemukan oleh Bangsa China dulu

Untuk bahan baku utama dalam pembuatan kertas yang digunakan oleh bangsa China adalah kulit kayu pohon murbei, mungkin sebagian dari orang Indonesia mengenal tanaman murbei sebagai “besaran“. Pada masa itu kayu murbei yang ukurannya sudah besar saja yang akan dipotong dan digunakan, alasannya karena kulit kayunya sudah banyak, sehingga lebih memudahkan juga dalam proses pembuatannya.

Saat kayu murbei sudah dipotong, maka kayu tersebut akan dikuliti. Perlu anda ketahui bahwa kayu murbei ini sebenarnya hampir sama seperti jenis kayu yang lain, terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan luar yang berwarna gelap yang dapat langsung kita lihat, dan lapisan dalam yang lebih tebal dan berwarna putih.

Jadi setelah kayu murbei selesai dikuliti, maka lapisan luar yang gelap akan dikerat dan dipisahkan dari lapisan yang putih yang ada di dalamnya. Lapisan yang berwarna gelap akan dibuang, sementara yang berwarna putih tersebut yang akan digunakan.

Setelah itu kulit kayu yang berwarna putih tersebut akan dijemur sampai kering, setelah kering maka langkah selajutnya yaitu merendam kulit kayu tersebut di dalam air selama beberapa waktu (waktunya sendiri tidak dapat ditentukan, karena pada waktu itu masih belum ada standarisasi pengerjaanya).

Selain itu untuk merendam kulit kayu, biasanya dilakukan di sungai yang airnya mengalir, hal ini sepertinya dilakukan karena setelah beberapa waktu direndam, maka kulit kayu tersebut akan mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga jika direndam di dalam air yang mengalir, maka bau dari kulit kayu tersebut tidak akan terlalu menyengat lagi.

Setelah itu kulit kayu yang sudah direndam tersebut akan diangkat, lalu proses selanjutnya adalah merebus kulit kayu. Waktu perebusan kulit kayu ini bisa memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar satu hari atau sampai kulit kayu menjadi lunak.

Sedangkan selama proses perebusan kulit kayu, perlu ditambahkan juga abu sisa pembakaran, sepertinya tujuan penambahan abu, yaitu untuk mempercepat proses melunakkan kulit kayu. Lalu setelah air perebusan mulai mendidih, maka untuk mengurangi uap air yang keluar, tempat perebusan perlu ditutupi dengan menggunakan kain sejenis karung goni, selain itu proses penutupan ini dapat mempercepat pelunakan kulit kayu.

Jika, air perebusan sudah mulai habis menguap, maka perlu ditambahkan air lagi sampai proses perebusan ini menghasilkan kulit kayu yang benar-benar lunak.

Setelah proses perebusan selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya akan dilanjutkan dengan proses pencucian. Pada saat proses pencucian ini dilakukan, maka kulit kayu akan digosok sampai bersih, bahkan kotoran yang menempel selama proses sebelumnya, juga perlu dibuang dan dibersihkan.

Pada waktu ini, bentuk kulit kayu sudah menyerupai kertas koran yang dicelupkan dalam air, dan langkah selanjutnya adalah proses penghancuran kulit kayu tersebut menjadi bubur kertas.

Tetapi pada masa lalu, proses pembuatan bubur kertas tersebut yaitu kulit kayu yang telah lunak tersebut akan dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil, setelah menjadi serpihan kecil, maka kulit kayu akan ditumbuk sampai lumat.

Setelah terbentuk bubur kertas, maka langkah selanjutnya adalah proses pencetakan. Untuk pencetakan bubur kertas menjadi lembaran kertas, maka langkah selanjutnya diperlukan bantuan dari alat pencetak. Alat pecetak ini terbuat dari lembaran kain trasnparan, yang sudah dibentangkan pada kerangka kayu.

Jadi, bubur kertas akan ditaburkan sampai merata pada permukaan saringan kain pada alat pencetak, dan untuk membantu meratakan permukaan kertas, maka proses ini dilakukan pada kolam air yang tenang. Setelah bubur kertas tersebar secara merata pada permukaan saringan, maka langkah selanjutnya adalah proses pengeringan kertas tersebut.

Pada proses pengeringan ini bisa dilakukan dengan menggunakan bantuan sinar matahari, atau jika tidak memungkinkan, maka dapat juga dipanaskan dengan menggunakan bantuan tungku api. Tetapi jika menggunakan bantuan api, maka harus berhati-hati agar kertas tidak gosong atau malah terbakar.

Setelah mengering maka lapisan kertas akan lebih mudah untuk dipisahkan dari cetakannya, dan pada saat itu terbentuklah kertas sederhana, yang sudah dapat digunakan untuk menulis.

Biasanya warna dari kertas sederhana ini seperti keabu-abuan, mungkin karena faktor abu yang digunakan sebagai campuran dalam proses perebusan kulit kayu. Selain itu ukuran ketebalan kertas juga tidak sepenuhnya rata, bahkan permukaan kertas juga tidak licin dan halus, tetapi permukaannya berbentuk seperti serabut, mirip seperti kertas karton murahan.

Tetapi bagaimanapun juga, penemuan ini adalah cikal bakal, penemuan kertas yang kita gunakan sekarang ini. Dan sepatutnya kita berterima kasih pada bangsa China, yang telah menemukan proses pembuatan kertas ini.

Tinggalkan Balasan