Sejarah Tempe Gembos atau Tempe Menjes

Mungkin beberapa waktu ini menu tempe gembos sedang naik daun, terutama karena menu makanan ini, juga dihidangkan dalam prosesi pernikahan putri dari Presiden Jokowi. Tetapi sebenarnya sejak saya kecil menu makanan ini sudah dihidangkan oleh orang tua saya, dalam menu makanan sehari-hari terutama menjadi lauk. Karena itu saat menu ini naik daun, maka rasanya senang juga.

Untuk proses pembuatan tempe menjes sendiri, dimulai dari proses pengurangan jumlah air pada ampas tahu, lalu setelah itu biasanya ampas tahu ini juga diberi tambahan bekatul, dan setelah selesai berikutkan ampas tahu tersebut akan diberi ragi tempe. Setelah itu tinggal ditunggu saja sampai tempe gembosnya jadi.

Proses pembuatannya tidak begitu rumit, tetapi yang menjadi menarik dari bahan makanan ini adalah kisah pilu dari sejarah pembuatannya, yaitu dulu saat masa penjajahan Jepang, hampir semua sumber daya, termasuk bahan makanan jumlahnya sangat terbatas, bahkan pada saat itu banyak orang yang kekurangan makanan.

Selanjutnya masalah ini diperparah dengan kondisi awal kemerdekaan Indonesia, yang masih harus berperang dengan Belanda, dan bukan itu saja bahwa kesulitan ini masih ditambah lagi saat Indonesia mengalami masa resesi hebat sebelum tahun’65.

Oleh karena semua kejadian yang terus berurutan tersebut, maka hal ini membuat hampir semua jenis tanaman, dan hal yang bisa dijadikan sebagai makanan, akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat di daerah kami. Dan salah satu hal yang dimanfaatkan tersebut adalah ampas tahu, yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempe gembos.

Pada masa-masa itu kehidupan sangat sulit, dan saya mendengar cerita bahwa tempe gembos pada masa itu adalah salah satu menu makanan yang sangat mewah, dan hanya sedikit orang yang bisa mendapatkannya. Di daerah tempat tinggal saya pada masa itu orang kebanyakan memakan “bulgur“. Menurut cerita beberapa orang, itu adalah sejenis ampas makanan babi.

Bahkan sampai saat ini, ada teman saya yang berasal dari luar Jawa, mengatakan mungkin hanya kotoran yang tidak dimakan oleh orang Jawa, dan hal ini dapat terjadi, saya rasa karena kenangan masa lalu yang begitu pahit bagi orang Jawa, sehingga orang Jawa pasti akan mengajarkan pada anaknya bahwa harus menghargai makanan, dan memanfaatkan semua hal yang bisa dimakan, bahkan tidak sembarangan membuang makanan ataupun menyia-yiakannya.

Tinggalkan Balasan