Alasan Panen Tebu dilakukan pada saat Musim Kemarau

Hampir setiap tahun saat akan memasuki musim kemarau,  hampir semua pabrik gula akan melakukan proses giling tebu secara serentak, dan pada saat akan memasuki musim penghujan, maka diusahakan agar proses giling tersebut harus sesegera mungkin dihentikan, bahkan kalaupun masih ada tebu yang tersisa, maka tebu tersebut tidak akan ikut dipanen / digiling pada waktu itu, dan akan diikutkan panen tahun depan.

Pada awalnya saya berfikir bahwa hal ini terkait dengan kemampuan mesin yang dimiliki oleh pabrik gula, karena mesin tersebut sudah tergolong tua, dan merupakan peninggalan dari Belanda, jadi tidak bisa digunakan terlalu lama, karena jika dioperasikan terlalu lama, maka mesin tersebut akan cepat rusak.

Ternyata pendapat saya ini hanya separuh benar, karena yang menjadi persoalan yang sebenarnya adalah kondisi dari tanaman tebu itu sendiri. Sebagai bahan baku utama dalam industri ini, maka saat akan digiling kondisi dari tebu harus dalam berada dalam kadar gula tertingginya. Gula oleh tanaman tebu akan disimpan di dalam batangnya, dan ternyata kadar gula dalam batang tebu ini ternyata tidak bisa terus stabil, malah lebih sering kadar gula dari tanaman tebu untuk mengalami penurunan.

Sehingga untuk mengurangi kerugian dari pihak pabrik gula, maka pabrik gula hanya melakukan panen pada saat dimana kadar gula di dalam tebu sedang berada dalam posisi tertingginya. Biasanya kadar gula di dalam tebu akan meningkat pada saat memasuki musim kemarau, dan nanti pada saat memasuki musim penghujan kadar air di dalam tebu yang akan meningkat, sehingga secara otomatis akan membuat kadar gulanya menjadi turun.

Sebenarnya jika kandungan air di dalam tebu sangat tinggi (misalnya saat terkena hujan sebelum digiling), maka yang terjadi adalah waktu, tenaga, dan pastinya biaya untuk memproses air gula menjadi gula kristal meningkat, sehingga secara otomatis akan menurunkan pendapatan dari pabrik gula.

Karena itu sebisa mungkin pada saat musim giling mulai, maka hujan juga harus berhenti, tujuannya agar pabrik gula bisa mendapatkan gula dengan kualitas yang baik, dan dengan biaya yang lebih murah. Yang akhirnya akan memberikan keuntungan bagi pabrik di akhir masa giling.

Bahkan menurut rahasia umum yang beredar di masyarakat, bahwa untuk menjaga agar selama musim kemarau tidak turun hujan, maka pabrik gula juga melakukan hal-hal mistis, seperti menggunakan jasa dari pawang hujan, untuk mencegah agar tidak ada hujan selama musim giling berlangsung.

Mungkin anda pernah melihat bahwa pada saat akan memasuki masa giling, maka hampir di semua pabrik gula akan melakukan banyak ritual dan kirab budaya, salah satunya adalah untuk meminta agar tidak turun hujan selama musim giling tersebut. Dan percaya atau tidak, karena biasanya selama musim giling berlangsung, tidak ada hujan yang turun di daerah kami, tetapi nanti saat musim giling sudah berakhir, maka hujan yang turun di daerah kami sangat banyak sekali, bahkan derasnya hujan seperti ingin menggantikan yang tidak turun selama musim giling berlangsung.

Tinggalkan Balasan