Serangan Hama pada Media Budidaya Cacing Tanah

Beberapa waktu yang lalu saya sempat untuk melakukan budidaya cacing tanah, hanya saja pada waktu itu saya mengalami kegagalan. Salah satu hambatan terbesar yang saya hadapi adalah adanya serangan dari hama pengganggu. Karena dalam sekali serangan ternyata jumlah cacing yang bisa dimangsa oleh hama tersebut dapat dibilang cukup banyak, sehingga dapat dipastikan bahwa kerugiannya juga tidak sedikit.

Hewan yang paling banyak menghabiskan cacing tanah yang saya dibudidayakan di dalam media adalah tikus clurut (Suncus murinus L). Dalam satu malam saja, tikus clurut tersebut dapat menghabiskan cacing tanah sebanyak satu media penuh, dalam beberapa hari banyak media budidaya cacing tanah yang menjadi kosong.

Bahkan saya mendengar ada peternak cacing tanah pemula seperti saya, yang rumahnya juga tidak jauh dari rumah saya. Dia juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, bahkan saya diberitahu bahwa jumlah kerugian tetangga saya itu, ternyata jauh lebih banyak dari pada yang telah saya alami. Permasalahan yang dia hadapi juga sama, yaitu media budidayanya mendapat serangan dari tikus clurut.

Tikus clurut memiliki anatomi tubuh yang sama sekali berbeda dari tikus, dia memiliki hidung yang lebih menyerupai moncong babi, dan kemampuan dari hidunya tersebut ternyata jauh lebih peka, dari pada hidung yang dimiliki oleh tikus hitam biasa. Sehingga dengan hidung yang jauh lebih baik dalam mencium mangsanya, tikus ini dapat mengetahui letak cacing tanah dengan lebih efektif. Hasilnya dalam sekali berburu, banyak sekali jumlah cacing yang dapat dia mangsa.

Selain clurut, hewan lain yang tidak kalah mematikannya dalam memangsa cacing tanah yang saya budidayakan adalah katak. Katak yang saya maksudkan di sini, adalah hampir semua jenis katak, karena saya melihat bahwa media budidaya milik saya, diserang oleh beberapa jenis katak dalam kurun waktu yang berbeda. Dalam satu malam biasanya katak akan menyerang media budidaya secara bergantian.

Katak-katak ini tampaknya juga menyukai menu cacing tanah seperti halnya tikus clurut, dan dalam sekali serangan katak juga dapat memangsa cacing dalam jumlah yang cukup banyak, apalagi jika sampai hewan yang menyerang media budidaya kita, melakukannya secara bergantian. Maka, dapat dipastikan bahwa kita tidak akan pernah panen.

Kalau kasus yang saya alami, bahwa banyak cacing yang ada di dalam media budidaya saya, sudah banyak yang habis dimangsa oleh tikus clurut, sehingga saat katak mulai menyerang juga, maka katak tersebut mulai menghabiskan sisa-sisa cacing yang ditinggalkan oleh clurut. Jadi boleh dibilang bahwa tingkat serangan kombinasi dari hewan-hewan ini bisa mendekati 100%.

Tinggalkan Balasan